Selangkah ke Sebrang

Pagi hari aku terbangun. Alarm sebelumnya aku atur agar berbunyi pukul 04.10. Semalam aku tidur terlambat, tugasku baru dapat selesai pada sekitar pukul 12.00. Selesainya tugas tersebut tidak lantas membuatku langsung pergi ke alam mimpi. Sejenak aku membuka akun instagram di ponsel, ternyata orang-orang masih banyak yang belum terlelap. Malam ini adalah malam minggu, tepatnya sudah hari minggu.

Aku bangun terlambat, jam di meja kamarku menunjukan pukul 04.45, untung saja alarmnya masih berdering dan sempat membuatku terbangun untuk menyadari bahwa aku sudah terlambat bangun. Aku segera bergegas untuk mandi, sholat shubuh, mengemas perlengkapan, dan menemui orang tua, mengabari kegiatanku hari ini. Terkadang meraka masih mengkhawatirkanku. Sebelum pergi, orang tua ku kembali bertanya mengenai tugas yang aku kerjakan semalam. Tugas itu tugas yang sangat penting. Ya, tugas itu merupakan draft yang harus aku selesaikan untuk melaksanakan sidang akhir. Sebentar lagi program strata satuku akan selelai. Beberapa langkah lagi.

Sepeda motor aku panaskan, sambil menunggu aku mengenakan sepatuku. Hari ini aku akan mengikuti sekolah jurnalistik alam terbuka. Kegiatan ini merupakan kegiatan perdana  Program Pendampingan Masa Anggota Muda (PPM) tahap II untuk anggota muda Wanandri. Kegiatan ini telah berlangsung dari hari sebelumnya tetapi aku baru bisa bergabung hari ini karena tugas itu baru selesai tadi malam.

eWhatsApp Image 2017-02-28 at 12.24.04 PM.jpeg
Berdoa sebelum memulai kegiatan, foto oleh: @listiyanaagung

Menempuh perjalanan sejauh 7 km, sampailah di tempat kumpul yang telah di tentukan. Sekretariat Wanadri yang berlokasi di Jalan Aceh No. 155. Disana sudah banyak sadaraku berkumpul dan meunggu saudara lainnya yang belum datang. Jam menunjukan pukul 06.55, sudah lewat dari waktu kumpul yang ditentukan. Agung selaku penanggung jawab kegiatan dengan sigap mengabsen anggota yang sudah hadir untuk mengetahui anggota yang belum hadir. Beberapa orang diberi kehormantan untuk mengkontak anggota yang belum hadir. Di perhimpunan kami sebuah tugas merupakan sebuah kehormatan.

Kegiatan ini berlangsung di daerah Setra Duta. Sebuah tempat milik senior kami yang akrab dipanggil Ceu Tri. Materi hari ini adalah mengenai videografi yang disampaikan oleh Kang Bima Prasena (@worldlifetravel) W-846 Hujan Rimba dan penulisan feature oleh Kang Zhibril A (@lebahpengembara) W-1112 Topan Rimba. Hari sebelumnya materi disampaikan oleh Kang Tendy K Somantri dan Kang Deni Sugandi (@denisugandi). Kang Tendy memberi materi tentang teknik menulis dan Kang Deni memberi materi tentang Fotografi. Selama materi berlangsung pikiranku terkadang pergi jauh ke kampus, teringat akan tugas akhir yang sedang aku perjuangkan agar segera berakhir. Di sisi lain, aku sadar sedang berada di sini, mengikuti program anggota muda yang sedang aku perjuangkan juga. Keduanya harus selesai, istilahnya “bisi gering”. Menjadi Angota Muda Wanadri (AMW) adalah pelajaran berharga untuk tetap sadar diri, sadar lingkungan, dan sadar tujuan. Menyadari tinggal selangkah ke sebrang berarti menyadari bahwa perjalanan belum usai. Wanadri!

Setra Duta

Minggu, 26 Februari 2017

Pra Latihan Perdana

Siang itu ada pemberitahuan melalui group di media sosial bahwa akan diadakan Latihan Gunung Hutan 1: Navigasi Darat. Ini akan menjadi latihan pertama yang mengharuskan pergi ke lapangan semenjak resmi menerima embel-embel AMW 102 Tapak Bara. Yak, mau tidak mau, suka tidak suka, harus tetap dijalani. Mau sih, suka sih, tapi ada tapinya.

1 minggu sebelumnya

Aku menyebutnya pra latihan GH 1. Satu minggu sebelumnya diadakan pelantikan Topan Rimba – Puspa Rawa. Beberapa AMW diberi kehormatan untuk membantu berlangsungnya acara tersebut. Acara yang berlangsung di alam terbuka mengharuskan untuk kembali membuka perlengkapan perjalanan yang sudah cukup lama bersemayam dalam ransel jingga keramat itu. Peralatan perjalanan memang sengaja dikumpulkan di satu tempat itu, tersimpan baik di pojokan kamar agar mudah dicari jika sewaktu-waktu akan dipakai.

Tibalah hari acara tersebut. Kegiatan ini benar-benar kembali menyegarkan pola pergerakan di lapangan yang sudah cukup lama tidak digunakan. Pemanasan sebelum benar-benar kembali dengan mental berlatih di lapangan. Membuat api, memasak, ber-bivouac menjadi menu di acara yang aku istilahkan dengan pra latihan ini.

eimg_4807
Skadron angkut barang besiap menggeser logistik ke lokasi perkemahan. Disini Arrizal menemukan jawaban atas rasa penasarannya tentang bagaimana cara menggeser beron-ton logistik dari satu titik ke titik lainnya.
eimg_4812
Dia adalah Teteh yang sangat ahli mengangani urusan perut orang banyak. Akrab disapa Teh Mili. Dalam kegiatan ini dapur selalu ngebul dibawah komando beliau.
eimg_4850
Bahan-bahan yang siap untuk dioalah.
eimg_4832
Belajar langsung dari “Dewa Api”. Dalam kondisi hujan pun api di lokasi perkemahan harus tetap bekobar menyala.
eimg_4836
Aku melakukan maka aku mengerti.
eimg_4829
Navigasi beserta filosopinya yang sangat dalam.

eimg_4888eimg_4890eimg_4894

Pada akhirnya kau akan semakin memahami kalimat

Kenyamanan itu anda buat sendiri

Kalimat yang masi terngiang di telingaku~~

Selamat Datang Wanadri Muda!

Tiga minggu sudah upacara penutupan Pendidikan Dasar Wanadri 2016 wanadri berlalu. Euforianya secara perlahan mulai menghilang lalu berganti kesibukan Program Pendampingan Masa Anggota Muda atau disingkat PPM. Dalam satu minggu pertama pasca PDW orang-orang sekitar akan terkejut melihat bentukan fisik setelah PDW, badan menjadi lebih langsing, bahkan terlalu langsing. Ketika berjabat tangan dengan seseorang, dia akan bertanya-tanya tentang bekas-bekas luka yang mulai mengering di sekitar pergelangan dan telapak tangan yang bagaikan tanah tandus.

Salep pasca PDW

Berbagai cara untuk kembali menghaluskan tangan dilakukan. Berbagi tips dilakukan dengan saudara seperjuangan, ada yang menggunakan pelembab biasa, ada juga yang menemukan obat berbentuk salep dengan indikasi yang sangat sesuai untuk seseorang yang baru saja melewati Pendidikan Dasar Wanadri. Nafsu makan akan semakin liar. Jika pada satu minggu setelah PDW orang-orang di sekitar melihat badan yang kurus sehingga kebanyakan mereka berkata “Ikut PDW aja tuh biar langsing” maka pernyataan itu adalah pernyataan yang sangat keliru. Beberapa hari kedepan perubahan akan terjadi, badan akan mulai berisi kembali, pipi akan menjadi “cubitable”. Harus segera dilakukan kegiatan mengaca dan mulai mengontrol diri. Jika tidak, badan mungkin akan terus mengembang.

Program Pendampingan Masa Anggota Muda mulai berjalan setelah memasuki minggu ke dua setelah PDW berakhir. Pada masa ini pola hidup akan berubah, jika tidak segera beradaptasi maka kau akan tertinggal. Berat memang. Beberapa senior sering berkata membandingkan masa PDW dan masa PPM, “Masa PPM akan lebih sulit, akan lebih berat dari pada PDW, pada masa ini akan lebih banyak godaan”. Semua yang dikatakan senior itu perlahan mulai terasa. Waktu harus diatur sedemikianrupa agar kehidupan sebelum PDW tetap berlanjut ditambah dengan adanya kegiatan-kegiatan rutin yang wajib dilakukan sebagai Anggota Muda Wanadri atau disingkat AMW.

Setiap tiga kali dalam sepekan dilakukan Pembinaan Jasmani (Binjas) berisi olahraga dengan porsi yang aduhai sehingga diawal bisa didapatkan cidera-cidera ringan karena badan telah cukup lama diistirahatkan. Pada rabu malam atau malam kamis diadakan ritual yang dinamakan rabuan. Pada ritual tersebut semua AMW akan berkumpul untuk mendapatkan penjelasan mengenai kegiatan PPM yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat, evaluasi juga dilakukan untuk kegiatan PPM yang sudah lalu.

Berbagai tanggungjawab mulai diemban oleh individu-individu AMW. Setiap kegiatan PPM memiliki penanggungjawabnya masing-masing. Maka benarlah istilah liden is lijden itu. Tidak cukup sampai disitu, semua AMW harus siap diterjunkan jika sewaktu-waktu terjadi oprasi SAR. Pada satu pekan pertama setelah PPM berlangsung tercatat sudah 5 berita orang hilang disebarkan. Pesan dengan akhir kalimat “persiapkan dirimu dan segera merapat ke 155” akan segera masuk ke ponsel. Ya, menjadi seorang Anggota Muda Wanadri adalah perihal komitmen dan pengorbanan.

e14222176_1234094769955631_3375032266222136430_n
Selamat menjalani program Tapak Bara – Bara Rimba

Ditulis dalam ranggka tugas setelah pelatihan PPGD dan Jurnalistik PPM 2016.

Yang Segarnya Mantap

Kabar di pagi hari membuatku berkesempatan mengunjungi pabrik yang memproduksi minuman berkarbonasi paling populer di jagat raya, PT CCAI. Pabrik dengan luas 6 hektar ini berada di Jalan Raya Bandung Garut km 26, Desa Cimangung, Sumedang. 5 hektar bagian dari luas parik digunakan untuk kepentingan oprasional dan 1 hektarnya digunakan untuk CSR bertajuk Coca-cola Forest. Disini para pengunjung di jelaskan mengenai serba-serbi percoca-colaan dan aturan selama mengunjungi pabrik di ruang auditorium lalu dipersilahkan kepada pengunjung untuk berjalan-jalan melihat lihat sekitar pabrik. setiap pengunjung harus berjalan pada jalur kuning. Sayang sekali tidak diperkenankankan untuk mengambil gambar di dalam ruangan produksi.

eimg_20160920_150722
Suasana di sekitar pabrik, kendaraan angkutan selalu berlalu lalang di jalan ini.
eimg_20160920_144355
Jalur kuning (pedestrian line).
eimg_20160920_144320
Kursi di ruang auditorium.
eimg_20160920_142942
Panas di luar, dingin di dalam.
eimg_20160920_134551
Sebuah pertanyaan untuk bapak yang sedang bekerja keras ini. Bapak minum minuman berkarbonasi rasa kola atau minuman laki? Dan ternyata 2017 CCAI berencana akan memproduksi Monster Energy.
eIMG_20160920_151418.jpg
Isi dari benda ini adalah… (lupa tidak ditanyakan)

Si Buta Lolong Menangkap Tikukur

Tepat satu minggu setelah pulang dari PDW, Komunitas Jelajah Gunung Bandung mengadakan acara Gathering 4 JGB dengan konsep blind camp. Semua peserta tidak mengetahui dimana titik lokasi acara akan dilangsungkan. Setelah di tiba di titik drop maka akan diketahui lokasi kegiatan akan dilangsungkan, tetapi bagi yang belum mengenal medan panitia memberi nama samaran gunung yang menjadi tujuan lokasi perkemahan, sebut saja Gunung Buta Lolong di ilhami oleh konsep kegiatan, buta berarti Raksasa, lolong berarti buta.

Buta = Raksasa, Lolong = Buta, hayoh loh? Lolong itu Raksasa???

Jadi lokasi perkemahan berada di daerah leuweung Tengah dengan rute melalui Gunung Tikukur si Gunung yang dinamai Buta Lolong tersebut. Leuweung tengah berlokasi di lembahan antara Gunung Cadas Panjang, Tikukur, dan Puncakan 2020, mungkin itu yang membuat daerah tersebut dinamai Leuweung Tengah yang berarti hutan yang berada di tengah.

eIMG_4719
Pemandangan dari perkampungan terakhir sebelum memasuki hutan.

eIMG_4722

eIMG_4723
Perbekalan minimalis.
eIMG_4724
Jika anda cukup jeli banyak hal-hal detail yang menarik selama perjalanan.
eIMG_4728
Bandrek Hanjuang: Minuman hangat tradisional yang telah dikemas dengan modern.
eIMG_4740
Di sekitar Leuweung Tengah dapat dijumpai pulus dengan tinggi sekitar 1 meter
eIMG_4741
Suasana perkemahan dipagi hari, mulai menghangatkan diri dan memasak.
eIMG_4747
Salah satu cara tidur agar perlengkapan yang dibawa semakin ringkas sedang trend di kalangan penggiat alam terbuka.

eIMG_4750

eIMG_4751
Sisa-sisa perjuangan PDW masih tetap jadi andalan.
eIMG_4755
Memasak menjadi acara paling favorit dalam kegiatan perkemahan ini.

 

 

Garut Dalam 36 Jam

eIMG_4523
Patung huruf raksasa penanda suatu daerah menjadi hal yang lumrah sejak beberapa tahun kebelakang.

Selamat datang di Kota Garut! Bayangkanlah Dodol, Kerajinan Kulit, dan Domba..

Alarm di handphone berbunyi, waktu menunjukan pukul 04.00. Bapak Rahmat Syukur Maskawan menunjukan kunci-kunci pintu keluar rumah. Jalanan masih sepi, hanya ada petugas kebersihan di beberapa sudut jalan, becak yang sepertiya menuju pasar, dan motor dengan suara knalpot mengganggu serta melebihi kapasitas yang diizinkan melintas dengan kecepatan tinggi. Jarak dari rumah keluarga Pak Rahmat hanya sekitar 100m menuju Masjid Agung Kota Garut.

eIMG_4537
Suasana setelah sholat shubuh di Masjid Agung Garut Kota.
eIMG_4551
Halaman depan rumah Pak Rahmat.

Pagi sekali kami bersiap, dengan bertenaga sukun goreng yang dicocol garam. Tenaga itu kami pakai untuk berjalan menuju sebuah warung bubur kacang ijo di Jalan Pramuka yang dekat dengan stasiun. Kami memesan 3 porsi bubur kacang, telur rebus 1/2 matang dan 3/4 matang. Warung bubur kacang ini sangat bersih dan nyaman. Jika dicari plang nama warung ini maka niscaya tidak akan pernah ditemukan kecuali sang pemilik berubah pikiran. “Sebut saja warung ini warung tanpa nama”, ujar sang pemilik. Selama 40 tahunan warung ini berjualan, warung ini tidak pernah punya nama, alasannya adalah agar jangan sampai namanya terkenal dengan rasa yang tidak enak.

eIMG_4554
Tidak hanya bubur kacang, tetapi berbagai jajanan pagi tersedia di warung tanpa nama.
eIMG_4560
Bapak pemilik warung yang sangat ramah.

Matahari semakin meninggi, jalan mulai ramai, kota mulai hidup kembali. Kami berjalan menuju arah Pasar Jagal untuk membeli pisang dan jajanan pasar. Yang diinginkan adalah adeboy. Pisang berbalut roti. Ya pisang lagi.

Beberapa kegiatan pagi di pusat keramaian.

eIMG_4577
Para penjual jajanan pasar dapat ditemui dengan mudah di pusat keramaian saat pagi hari.
eIMG_4579
Memilih, menawar, dan membeli.
eIMG_4586
Warung soto H. Achri yang terkenal.
eIMG_4587
Kembali ke rumah.

Setelah kembali ke rumah dengan perut terisi dan akan diisi kembali, tiba-tiba tercetus ide pergi menuju Talaga Bodas di Wanaraja, sebuah tempat yang katanya memiliki pemandangan yang mirip daerah kawah putih di Bandung. Talaga bodas masih sagat sepi, mungkin karena bukan hari libur dan masih pagi. Kami menghabiskan waktu dengan bejalan-jalan santai, memotret, mengomentari segala hal disini, dan melamun.

eIMG_4593
Tumbuhan di sekitar kawah.

This slideshow requires JavaScript.

Talaga Bodas.

eIMG_4675

eIMG_4678
Siang hari para pekerja di perkebunan sekitar Talaga Bodas akan dijemput oleh kendaraan angkutan, pada titik-titik tertentu kendaraan akan membunyikan clack sound untuk memanggil para pekerja yang belum berkumpul di titik penjemputan.

Kembali ke markas untuk beristirahat dan bersiap kembali ke Cipanas, agenda utama mengunjungi kota ini adalah untuk berendam.

Suasana yang mendukung untuk beristirahat.

Kampung Sumber Alam.

 

Terimakasih kepada Azhari dan Azzahra.

Jatihandap Back Trail

Long Weekend datang kembali, berbagai tempat wisata diserbu pengunjung yang berasal dari berbagai penjuru. Kota Bandung adalah salah satu kota tujuan penyerbuan tersebut. Sebagai warga Bandung yang someah maka ketika jalanan kota ini macet, cukup dihadapi dengan senyuman (da rek kumaha deui?) hehe. Diam di rumah tanpa kegiatan tentu membosankan, pergi ke tempat wisata tentu akan ramai. Berjalan lintas lembur atau tersohor dengan kata cross country ke daerah yang bukan menjadi tujuan wisata dapat menjadi solusi. Jalan-jalan dalam arti sebenarnya, berjalan menggunakan kaki, melintasi perkebunan, menghirup udara segar, mengobrol dengan warga sekitar, masak-masak kecil, berteduh dari hujan, obrolan kaditu-kadieu, inspirasi pun berdatangan. Inilah Jatihandap Back Trail, belakang rumah Pak Engkus.

“Kita akan berjalan sampai menemukan bendera merah putih terakhir”  (Pak Engkus)

Pak Engkus mengajak untuk berjalan sampai batas negara ini.

eIMG_4191eIMG_4211eIMG_4219eIMG_4226eIMG_4237eIMG_4245eIMG_4249eIMG_4253eIMG_4258eIMG_4265eIMG_4270eIMG_4275eIMG_4276eIMG_4278eIMG_4229

Memang benar ditemukan bendera merah putih itu, bejalan sekitar 20 km terasa jauh, ternyata kami masih di Indonesia. Negara yang luas. Mari kita syukuri.

..Tongkat kayu dan batu jadi tanaman..

..Ikan dan udang menghampiri dirimu..

(Kolam Susu)

Bandung, 05 Mei 2016

Geowisata: TAHURA dari Sudut Pandang Berbeda

Sudah berapa kali anda berkunjung ke area Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda? Saya sendiri sudah lupa karena memang cukup sering bermain ke sana. Pertama kali saya bermain di Tahura ini adalah saat duduk di bangku kelas 2 SD. Saat itu perjalanan menuju maribaya terasa sangat jauh sampai-sampai saya digendong oleh kakak karena kelelahan.

Area Tahura ini menarik untuk berbagai aktivitas seperti hiking, bersepeda, berlari, atau sekedar piknik, karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari pusat keramaian Kota Bandung tetapi sudah menyuguhkan pemandangan yang asri. Kali ini saya berkesepatan untuk berkunjung ke Tahura dalam rangka Kuliah Lapangan Geowisata sehingga yang menjadi fokus dalam perjalanan kali ini adalah Tahura dari segi belajar menjadi seorang interpreter, bukan fokus ngegenjot sepeda, bukan juga fokus membingbing adik-adik penggalang berlatih. Apa itu interpreter? di bawah mungkin akan dijelaskan. Mungkin. Baca aja dulu kalo penasaran.

Perjalanan menuju titik-titik berikut, terdapat pada gambar dibawah.

tahura map

  1. Gua Jepang
  2. Gua Balanda
  3. Bantar Awi
  4. Lava Pahoehoe
  5. Curug Omas

Titik Berkumpul pertama adalah Tugu Ir. H. Djuanda, kami semua berkumpul untuk diberikan penjelasan awal. Fore Shadowing. Memberikan gambaran kepada seluruh peserta tentang rute yang akan ditempuh serta menggugah rasa penasaran seluruh peserta agar berpartisipasi secara menyeluruh selama berkegiatan. Peserta di guguah dengan cerita mengenai aliran sungai menuju sebuah danau yang merupakan kolam penenang PLTA Bengkok.

Di Gua Jepang saya melihat (lebih tepatnya diarahkan untuk melihat) gua dari sisi geologi. Biasanya yang saya lihat dari tempat ini adalah sejarah pendudukan Jepang dan Belanda. Terekam istilah asing yaitu litologi ignimbrite breksi – lapili, fragmen scoria dll. Pernahkah anda bertanya “Dari mana asalnya tanah atau batu yang ada di sini?” maka geowisata akan mengajak anda untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut.

Pejalanan dilanjut menuju Gua Belanda, disana dijelaskan mengenai Gunung Tangkuban Parahu, Bapak, serta Kakeknya yang membentuk morfologi di kawasan Tahura ini. Bumbu sejarah tetap menjadi pelengkap yang membuat sajian semakin mantap. Sayangnya kemarin bumbu mitos penduduk lokal mengenai pamali samasekali tidak diceritakan padahal biasanya bumbu ini biasanya dapat menjadi penarik perhatian yang cukup efektif.

Mengamati sebuah singkapan di perjalanan memerlukan ilmu interpretasi yang baik, misalnya terlihat lapisan yang berbeda warna tetapi beberapa langkah berikutnya warna kembali seragam, belum tentu lepisan tersebut berbeda, bisa saja perbedaan warna tersebut terjadi karena pelapukan. Ya! Begitu gambaran perbedaan Interpreter dan Pemandu Wisata Biasa. Semoga cukup menggambarkan.

eIMG_20160424_103117

Dengan megamati ukuran, fragmen, sortasi dari sebuah singkapan, dan lain-lain seorang interpreter akan bisa menjelaskan mengenai pembentukan batuan di daerah tersebut.

e13083140_1003116363069967_3365416399662327099_n

Perjalan menuju Bantar Awi

Sumber foto (Dwi Suci)

Sesampainya di Bantar Awi kami beristirahat di dekat kandang rusa dengan Pak Budi meminta beberapa Mahasiswi Biologi untuk menjelaskan sedikit sudut pandang biologi sepanjang perjalanan, saya bisa menyebutnya Biowisata, hehe.

eIMG_20160424_120916

Lokasi yang paling menarik versi blog ini adalah Lava Pahoehoe. Mengenai banyak interpretasi tentang pembentukan situs geologi ini, yang jelas batu ini indah. Jalan menuju tempat ini cukup terjal, justu menjadi semakin membuat suatu kegiatan geowisata semakin menarik dengan tetap mengingat prinsip:

Do it safely or not at all, there is always time to do it right

 

e13094266_1003118073069796_2330287862980030439_nCurug Omas

Sumber foto (Dwi Suci)

Perjalanan berakhir di Curug Omas dengan penjelasan mengenai pertemuan Sungai Cigulung dan Sungai Cikapundung, Kekar Kolom, dan reiview hasil perjalanan plus tugasnya dikumpuklan (maklum ini kuliah). Disinilah peranan geowisata dalam membekali para partisipannya mengenai kesadaran akan lingkungan digarisbawahi, sehingga sepulangnya ke rumah masing-masing setiap partisipan dapat menjadi agen pada lingkungannya masing-masing.

Bandung 24 April 2016